Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Menebas Tiang-Tiang Pembatas Mimpi



Judul                             : Indonesia Mengajar
Jumlah Halaman           : 322 halaman
ISBN                            : 978-602-8811-57-6
Penyunting                    : Ikhdah Henny dan Retno Widyastuti
Penerbit                         : Penerbit Bentang
Cetakan pertama           : November 2011

Wacana-wacana masyarakat Indonesia sering diserbu berita kemenangan besar generasi muda dalam kompetisi internasional. Bangsa Indonesia boleh sedikit mengangkat dagu karena ribuan torehan medali yang disumbangkan anak didiknya. Mulai dari medali emas, perak, perunggu hingga inovasi teknologi meraih penghargaan dunia. Namun tidak banyak tulisan yang mencatat kisah perjuangan sukarelawan muda dalam pemberantasan penyakit kronis pelosok negeri yaitu kemiskinan pendidikan. Salah satu buku yang sukses menyahut janji kemerdekaan Indonesia dalam bidang pendidikan adalah Indonesia Mengajar.
Senada dengan judulnya, buku ini berbicara tentang perjuangan 51 pengajar muda yang berusaha menebas tiang-tiang pembatas mimpi siswa SD di berbagai pelosok negeri. Promotor-promotor pendidikan itu memilih untuk mengabdi pada negara daripada meniti karir di perusahaan ataupun intansi yang notabenenya makmur gaji. Mereka adalah sarjana muda terpilih dari berbagai jurusan dan daerah yang  simpati terhadap ironisme pendidikan Indonesia. Wajah lain pendidikan Indonesia ternyata masih memerlukan uluran tangan para tenaga terdidik. Tagline “Mendidik adalah kewajiban orang terdidik” tercermin dalam setiap kisah yang dicatat oleh para pengajar muda dalam buku ini.
Indonesia Mengajar mengelompokkan kisah-kisahnya menjadi empat subtema. Subtema pertama diberi judul Anak-Anak Didik Pengajar Muda. Setelah itu dilanjutkan dengan subtema Memupuk Optimisme, Belajar Rendah Hati, dan  Ketulusan Itu Menular. Pembaca akan disuguhkan kisah-kisah inspiratif dan menarik dari keempat subtema itu. Bukan hanya tentang keadaan siswa didiknya namun juga relasi pengajar muda dengan lingkungan baru mereka yang mengundang tawa, tangis, dan decak kagum pembacanya.
Terlepas dari apapun bentuknya, setiap wacana pasti memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan buku ini muncul dari empat aspek. Empat aspek tersebut tampak pada sampul buku, kebaruan (orisinalitas) cerita, karakter tulisan, dan nilai guna buku. Sedangkan kelemahannya terletak pada bahasa penulisan, tata letak ilustrasi data, dan keterpaduan cerita dengan subtema.
Sampul buku ini sukses menarik perhatian pembaca untuk pertama kali. Gambar Anies Baswedan dan beberapa siswa berpakaian merah putih representatif dengan isi buku yang disuguhkan. Rumah kayu di atas genangan air laut dan dua orang pengajar muda yang muncul dari dalamnya semakin menguatkan esensi tulisan Indonesia Mengajar. Perpaduan warna hijau dan kuning yang ditampilkan menimbulkan kesan bersahaja namun tetap menggugah minat membaca.
Selain itu, nilai kebaruan (orisinalitas) yang ditawarkan menyeret rasa ingin tahu yang besar untuk membacanya. Buku ini meluncur di tengah-tengah dengungan Gerakan Indonesia Mengajar yang diketuai oleh Anies Baswedan. Wacana yang hangat tentu menjadi incaran semua maniak buku. Masyarakat cenderung ingin tahu topik yang sedang hangat dibicarakan dibanding wacana yang sudah basi.
Variasi karakter tulisan yang disuguhkan sukses menjerat bola mata pembaca untuk kedua kalinya. Kisah yang dibuat Saktiana Dwi Hastuti, pengajar muda dari Jurusan Sastra Indonesia terasa lebih mengalir. Misalnya Bangunnya Keke dari Mati Suri dan Dari Belut Turun Ke Hati menyajikan logika penulisan yang mudah diikuti dari hulu hingga hilir tulisan. Beberapa tulisan yang ringan dan sarat  tawa muncul pada kisah Mas Guru Punya Cerita:The Little Monsters, Tepuk Nyamuk dan Anak Berbahasa Angka. Berbeda halnya dengan Zaki Laili Khusna, pengajar muda dari Fakultas Psikologi yang serius mengupas kondisi psikologis siswanya dalam Maya Ngambek Lagi. Selain itu Ibu, Pelanggaran! karya Nisa Rachmatika memiliki nuansa paling unik karena dia satu-satunya pengajar muda yang sangat menikmati kekacauan dan keliaran anak-anak di Muda Majene.
Sembari menghanyutkan atensi pembaca pada karakter tulisan, buku ini menyuntikkan manfaat dan nilai guna yang tinggi. Kemunculan 51 pengajar muda yang mengemban misi besar kemerdekaan pendidikan sangat menginspirasi banyak orang. Mereka sadar bahwa anak-anak di pelosok negeri juga berhak mengenyam kenikmatan pendidikan. Setiap desa ternyata menyimpan bibit-bibit emas yang tidak kalah dengan pelajar kota. Rekonstruksi cerita tentang anak-anak pedalaman dan relasi pengajar muda dengan lingkungan secara tidak langsung menanamkan pada kita bahwa empati, optimisme, keikhlasan, ketulusan, dan rendah hati adalah cerminan paling dasar dari sebuah pendidikan.
Sayangnya, bahasa penulisan masih belum bisa disebut sempurna. Pada kisah pertama Rizki, My Genius Student terdapat inkonsistensi penggunaan kata saya. Di awal cerita, penulis menyebut dirinya saya namun dari bagian tengah hingga akhir, kemunculan kata aku tentu membingungkan pembaca. Penggunaan bahasa Inggris yang dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia yang muncul di beberapa sudut tulisan menimbulkan kesan ketidakbakuan. Misalnya dalam tulisan Membaca Indonesia Raya terdapat kalimat Just wanna say to everyone in this world bahwa jika hari ini.... dan Membayangkan papa-indoq, ayah ibu hostfam-ku yang bakal senyum.... Selain itu, pada tulisan Pintu Tambak And The World Economy muncul juga kalimat What fascinates me the most adalah kerja tersebut.... Bahasa penulisan tersebut wajar muncul karena buku ini adalah hasil adaptasi dari blog walaupun sudah disunting sebelumnya.
Tata letak ilustrasi data terasa kurang efektif. Beberapa tulisan dilengkapi dengan foto-foto dokumentasi namun kebanyakan tidak. Selain itu, data informasi berupa peta penempatan pengajar muda terpisah jauh dengan tulisan terkait. Pembaca akan terlalu sibuk membolak-balikkan kertas untuk mencari informasi lokasi pengajar muda karena letaknya di akhir buku. Seharusnya catatan kaki pada awal tulisan memuat data lokasi dengan sangat detail sehingga pembaca mudah membayangkannya.
Jika pembaca mempertahankan fokusnya dari awal hingga akhir, mereka akan menemukan segelintir ketidaksesuaian cerita dengan subtema buku ini. Misalnya kisah Sekolah Tanpa Nama hadir dalam subtema Ketulusan Itu Menular. Kisah ini semata-mata hanya mendeskripsikan kondisi masyarakat dan sebuah sekolah yang tidak beridentitas di kawasan Moro Seneng. Nilai-nilai ketulusan tidak menjadi benang merah dalam kisah ini.

Terlepas dari kelemahan yang dimilikinya, Indonesia Mengajar sangat layak dikonsumsi oleh masyarakat. Buku ini berani unjuk gigi dan menginspirasi generasi muda terdidik. Buku ini juga yang menyadarkan kita bahwa masih ada wajah muda yang optimis mewujudkan kemerdekaan pendidikan di Indonesia. Pendidikan menjadi hak kemerdekaan semua orang dan mendidik bukan lagi sekadar profesi yang menekankan profit oriented. Mendidik adalah tanggungjawab mulia yang melekat pada lulusan sekolah manapun. Mendidik adalah kewajiban orang-orang terdidik. 

Minggu, 05 Mei 2013

Kisah Dari Lokananta dan Museum Pers Nasional



Selain kebudayaan dan kelezatan makanan khas daerahnya, Solo juga menjadi naungan tempat-tempat paling bersejarah di Indonesia. Sebut saja Lokananta dan Monumen Pers Nasional. Lokananta adalah studio rekaman musik pertama di Indonesia. Monumen Pers Nasional menjadi sangat bersejarah karena gedung tersebut menandakan hari kebangkitan pers di Indonesia. Walaupun usianya sangat tua, dua aset sejarah ini tergolong hebat dalam upaya pemeliharaan eksistensi mereka di tengah perkembangan masyarakat yang dinamis.
Tidak puas dengan segelintir pengetahuan yang dimiliki, pada hari Kamis tanggal 2 Mei 2013 mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UGM memutuskan untuk berkunjung ke Solo. Mereka mencari tahu seluk beluk dua aset sejarah tersebut. Destinasi pertama adalah Lokananta kemudian Monumen Pers Nasional. Kunjungan itu juga termotivasi oleh kedekatan mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan dunia broadcasting dan pers. Dengan begitu, setelah perjalanan usai mereka memiliki wawasan yang lebih tentang sejarah ilmu komunikasi dan media di Indonesia.
Lokananta berdiri sejak 29 Oktober 1956. Lokananta adalah pelopor dunia rekaman di Indonesia. Pendi Hariyadi, Ketua Lokananta mengatakan bahwa studio rekaman tersebut bukan hanya semata-mata untuk merekam, audiovisual juga dilayani. Maka tidak heran visi Lokananta adalah menjadi Museum Musik Indonesia. Hariyadi juga menegaskan tentang dana operasional Lokananta yang benar-bernar murni dari usaha sendiri. “Tidak ada anggaran dari pemerintah. Kami dapat dana dari orang-orang yang menyewa tempat di area Lokananta seperti arena futsal dan pebisnis kuliner”, imbuhnya.
Studio yang terletak di jalan Ahmad Yani 387, Solo ini memang menyimpan banyak sejarah perjalanan musik Indonesia dan bisa dikatakan sebagai titik nol musik Indonesia. Sejak awal berdirinya, Lokananta mempunyai dua tugas utama yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam juga audio kaset. Lalu karena melihat potensi pasar, pada tahun 1961 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 251, status Lokananta menjadi Perusahaan Negara sehingga studio rekaman tersebut menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara RI.
Dalam perjalanan sejarahnya, musisi-musisi seperti Gesang, Titik Puspa, Waldjinah, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, Bing Slamet, Idris Sardi dan masih banyak yang lainnya pernah melakukan rekaman disana. Ada lebih dari 40 ribu piringan hitam musik tradisional diseluruh Indonesia berada di sana. Ribuan master rekaman berbagai genre musik, dari mulai pop, kroncong, hingga jazz sejak tahun 50-an hingga 80-an disimpan di sana. Bahkan, master rekaman pidato proklamasi Soekarno juga tersimpan disana.
Sayangnya seiring dengan waktu, kisah kejayaan Lokananta kian menghilang. Dahulu pembajakan besar-besaran mulai terjadi. “Humas Lokananta menyebutkan telah terjadi 629 kasus pembajakan”, ujar Andi, staff Lokananta. Cobaan menjadi semakin berat ketika kurang lebih tujuh puluh label lain di luar Lokananta berkembang pesat di Indonesia. Selain itu, kondisi semua dokumen berharga yang tersimpan di sana sudah kurang layak karena minimnya dana yang dimiliki oleh Lokananta. Beberapa koleksi pun dijual secara terpaksa kepada kolektor untuk biaya operasional.
Likuidasi BUMN yang terjadi pada tahun 1998 semakin mencekik napas Lokananta. “Dahulu Lokananta adalah BUMN di bawah Departemen Penerangan. Maka dari itu, kita sempat vakum selama hampir tiga tahun dari tahun 1998-2000”, kata Titi, salah satu founder Lokananta. Pada kenyataannya, Lokananta masih mampu melangkah sedikit demi sedikit. Hal pertama yang dilakukan adalah menjaga aset yang tersisa yaitu 14 karyawan yang belum diangkat menjadi PNS. Titi menyebutkan bahwa setiap hari selama enam bulan mereka membersihkan piringan-piringan hitam yang tersisa tanpa digaji sepeser pun.
Hingga pada tahun 2000 Lokananta mencoba satu langkah baru. Mereka melakukan pemasaran produk kembali. “Dengan 14 karyawan, Lokananta menjual 1000 keping kaset yang tersisa dan hasil yang diperoleh hanya Rp7900”, cerita Titi. Walaupun jumlahnya sangat kecil, hal tersebut menjadi langkah awal untuk menggaungkan kembali nama Lokananta di mata masyarakat.
Oleh karena itu, para pecinta musik Indonesia  menggalang kampanye yang bertajuk Savelokanta. Beberapa waktu lalu penyanyi Glenn Fredly merilis album DVD Live yang bertajuk Glenn Fredly & Bakucakar live from Lokananta. Glenn berkampanye dengan berbagai cara untuk mengangkat kembali Lokananta menjadi warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Selain Glenn, grup musik White Shoes and The Couples Company juga merekam ulang lagu-lagu mereka untuk mengenalkan kembali kepada generasi muda Indonesia agar peduli dengan Lokananta.
Hingga detik ini, Lokananta telah berhasil mengembangkan inovasi-inovasi terbaru dan mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat Indonesia. “Mixer music yang dimiliki Lokananta hanya ada empat buah di dunia”, kata Andi. Layanan pun diperluas dengan penerimaan jasa printing, duplicating, desain, dan lain-lain. Jika dahulu aktivitas Lokananta berorientasi pada nonprofit, sekarang mereka harus mengikuti perkembangan zaman teknologi dan berupaya untuk menghasilkan uang. Selain itu, Lokananta menciptakan e-gamelan yaitu seperangkat gamelan yang dikemas dalam bentuk digital sehingga suaranya pun disesuaikan dengan nada aslinya. “Dalam menjawab selera anak muda, kami meluaskan genre yang sesuai dengan karakter mereka”, ungkap Hariyadi. Dengan begitu, Lokananta mampu bersinar lagi di mata masyarakat dan musikus Indonesia.
Cerita lain datang dari Monumen Pers Nasional yang berdiri di Surakarta. Awalnya gedung tersebut merupakan Markas Besar Palang Merah Indonesia namun beberapa tokoh seperti B.M. Diah, S.Tahsin, Rosihan Anwar, dan lain-lain mencetuskan gagasan tentang pembangunan Yayasan Museum Pers Indonesia. Modal utamanya hanyalah berupa koleksi buku dan majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Akhirnya pada tanggal 9 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan gedung societeit Sasana Soeka menjadi Monumen Pers Nasional dengan penandatanganan prasasti. Kemudian semenjak tanggal 16 Maret 2011 melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 06/PER/M.KOMINFO/03/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Monumen Pers Nasional diputuskan bahwa Monumen Pers Nasional adalah Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Ketika memasuki area Monumen Pers Nasional, hal pertama yang menarik perhatian adalah Papan Baca. Papan kaca yang berbentuk persegi panjang tersebut memasang surat kabar Solopos, Suara Merdeka, dan Republika terbaru. Papan tersebut berdiri di sebelah trotoar, menghadap jalan raya, dan siapapun bisa membacanya tanpa terkecuali. Oleh karena itu, tidak heran jika konssumen Papan Baca Mulai dari kalangan atas hingga kalangan bawah,
Ketika memasuki ruang tengah, selain prasasti pers, di pojok kanan dan kiri ruang pertemuan dipajang enam diorama yang menceritakan sejarah perkembangan pers di Indonesia. Diorama pertama menggambarkan penyampaian berita pada zaman prasejarah hingga kerajaan Indonesia. Diorama kedua menceritakan tentang pers pada zaman penjajahan Belanda. Diorama ketiga menggambarkan pers pada zaman penjajahan Jepang. Diorama keempat menceritakan perkembangan pers di Indonesia pada awal kemerdekaan. Diorama kelima menggambarkan perkembangan pers di massa Orde Baru. Diorama keenam menjelaskan perkembangan pers pada massa reformasi yang menjunjung tinggi kebebasan pers.
Koleksi benda pers bersejarah di Monumen Pers Nasional juga sangat menarik perhatian pengunjung. Seperti baju wartawan kuno yang pernah dipakai Hendro Subroto, penerima anugerah Penegak Pers Pancasila saat meliput integrasi Timor Timur ke Indonesia. Pemancar Radio Kambing dipergunakan semasa perang gerilya clash ke II tahun 1948-1949. Guna menghindari serangan pasukan musuh pemancar disembunyikan di dekat kandang kambing maka dari itu disebut Pemancar Radio Kambing. Di bagian tengah terdapat ruang Media Center. Di sana pengunjung dapat menggunakan wifi gratis dengan perangkat komputer yang telah disediakan.
Dengan ketersediaan koleksi kebudayaan, literatur, dan artefak yang sangat terpelihara di Lokananta dan Monumen Pers Nasional, masyarakat akan lebih mengenal dan mencintai sejarah Ilmu Komunikasi dan Media di Indonesia. Akan tetapi mengenal sajalah tidak cukup. Semua orang harus turut serta dalam upaya pelestariannya.

Minggu, 21 Oktober 2012

Hiroshima dan Nagasaki Merana, Rakyat Bertanya-Tanya

 

Enam puluh tujuh tahun telah berlalu sejak tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki di Jepang. Kenangan atas dua serangan bom mahadahsyat tersebut masih terus diingat oleh warga Jepang. Warga tidak akan pernah lupa bagaimana bom meluluhlantakan kota mereka. Tentunya mereka juga terus ingat akan pendarahan, leukimia, katarak, dan tumor yang muncul atas efek serangan bom nuklir beradiasi tinggi itu. Perlu kita pahami, bukan hanya warga Jepang yang boleh ‘memiliki’ sejarah ini. Semua negara di dunia termasuk Indonesia berhak mencari tahu sedalam-dalamnya tragedi pahit yang terjadi pada tahun 1945 ini.
Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki masih menyisakan tanda tanya besar di benak semua orang. Pasalnya, beberapa sumber mengupas tragedi ini dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Hampir semua buku sejarah yang kita dapatkan sejak SD, SMP, hingga SMA, menyuguhkan alasan yang sama. Jepang pernah menyerang Pearl Harbour dan sekaligus menyeret Amerika Serikat ke dalam Perang Dunia II. Atas dasar balas dendam, Amerika Serikat mengebom Hiroshima dan Nagasaki. Namun, ada beberapa sumber di luar buku tersebut berpendapat lain. Pakar komunikasi menengarai bahwa alasan utama pengeboman kedua kota tersebut adalah kesalahpahaman pihak Amerika Serikat dalam menafsirkan pidato Perdana Menteri Jepang. Perbedaan opini tersebut memunculkan efek keraguan yang hebat pada masyarakat.
Selama ini masyarakat percaya bahwa pada tahun 1945 Amerika Serikat ingin memberi pelajaran kepada Jepang yang telah berani ‘mengutak-atik’ Pearl Harbour. Kemarahan tersebut memantapkan hati Amerika Serikat untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Akhirnya, Little Boy yang memiliki daya ledak 13 kiloton TNT meluluhlantakkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Ledakkan ini melenyapkan sekitar 250.000 jiwa dari 350.000 penduduk seluruhnya. Tepat tiga hari setelah itu, Fat Man menghancurkan Nagasaki dengan korban yang lebih sedikit yaitu sekitar 80.000 jiwa. Kedua bom ini segera menghentikan aktivitas kehidupan di kedua kota tersebut. Jepang pun bermuram atas serangan bertubi-tubi ini.
Ternyata, sudut pandang komunikasi menguak sejarah pengeboman ini dari segi yang berbeda. Pada tanggal 26 Juli 1945 pihak sekutu menyiarkan hasil Deklarasi Postdam yang menyatakan agar pihak Jepang menyerah tanpa syarat dalam Perang Dunia II. Sebagai reaksi atas deklarasi tersebut, keesokan harinya Perdana Menteri Jepang, Suzuki Kantarou, mengadakan pidato kenegaraan di radio yang disiarkan ke seluruh penjuru bumi. Pidatonya berbunyi, "Seifu wa kore o mokusatsu shi, aku made sensou kanchiku ni maishin suru." Kantor berita Domei menerjemahkan kata mokusatsu menjadi “mengabaikan”, alih-alih maknanya yang benar adalah “jangan memberi komentar sampai keputusan diambil”. Hal ini mengindikasikan bahwa penerjemah bahasa bisa mengubah opini publik dalam sekejap mata.
Suatu versi lain mengatakan bahwa Jenderal MacArthur memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa keabsahan arti kata mokusatsu. Dia memeriksa semua daftar kata dalam kamus bahasa Jepang-Inggris yang memberi padanan kata no comment. Kemudian, MacArthur melapor kepada Presiden Truman yang memutuskan untuk menjatuhkan bom atom. Alhasil, sepuluh hari setelah Deklarasi Postdam, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Padahal, makna kata mokusatsu itu adalah “Kami akan menaati ultimatum Tuan tanpa komentar”. Ironis!
Perbedaan segi pandang tentang sejarah dunia tersebut memang semakin menggoyahkan kepercayaan kita. Awalnya, kita sudah menanamkan pemahaman bahwa pengeboman dua kota Jepang tersebut dipicu oleh aksi balas dendam. Namun, banyak versi sumber membidik kesalahan penerjemah bahasa yang dimiliki Amerika Serikat. Lantas, pengetahuan baru tersebut mengintervensi pemahaman kita yang sudah ada sebelumnya. Begitu seterusnya hingga kita tidak bisa lagi mempercayai sumber manapun. Namun, pada akhirnya karakter kepribadian mampu menjawab segalanya. Kita perlu menjaga konsistensi  berpikir kritis agar tidak mudah hanyut dalam kemajemukan informasi seperti ini.

Menerka Dalang di Balik Petrus



Penembakan misterius atau yang lumrah kita sebut ‘Petrus’ kini masih menyisakan tanda tanya besar di benak masyarakat Indonesia. Catatan hitam tersebut menjadi misteri yang tidak pernah terungkap. Pasalnya, pembunuhan tidak manusiawi yang terjadi di era Soeharto itu hingga detik ini belum menemukan titik terang. ‘Hidup segan mati tak hendak’ adalah ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan ketidakberdayaan Komnas HAM dalam kasus ini. Gaung aksi pemerintah dalam kasus Petrus tidak pernah terdengar sedikitpun. Padahal, salah satu pembantaian manusia terbesar pada abad 20 itu secara tidak langsung telah mencoreng UUD 1945. Indonesia adalah negara penyembah konstitusi namun tidak berani unjuk gigi.
 Kita bertanya-tanya tentang ‘dalang’ di balik semua rentetan pembunuhan keji tersebut. Pandangan masyarakat baik di era 80-an atau era reformasi ini masih melayang tajam pada Soeharto. Bagaimana tidak, Soeharto yang pada saat itu masih berstatus sebagai presiden Indonesia justru’ memberi lampu hijau’ pada kasus Petrus. Dia menyebut pembantaian tersebut sebagai shock therapy. Terapi goncangan untuk mengkonkretkan keberadaan pengendali kejahatan. Namun, apakah harus dengan pembunuhan keji dan sembunyi-sembunyi seperti itu ? Sayangnya, pikiran-pikiran kritis masih tersandung keabstrakan bukti. Belum ada bukti kuat yang menggiring kasus ini ke muara. Sekali lagi, keragu-raguan bisa muncul dan membiaskan jawaban yang sudah mengerucut.
Petrus sebenarnya adalah langkah kontinyu dari Operasi Celurit. Operasi ini diimplementasikan oleh Polda Metro Jaya, Jakarta untuk mereduksi angka kriminalitas yang dinilai berada di ambang kritis. Namun karena hasilnya cukup efektif, operasi ini diadopsi oleh daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Beberapa waktu kemudian Operasi Celurit menjadi semakin liar namun terkesan misterius. Hasilnya, pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus  saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan, dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan.
Pemandangan mengenaskan ini seolah-olah tidak mampu menggubris hati Soeharto. Ketidakempatiannya yang samar-samar tersurat dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H., khususnya pada bab 69. Dalam biografinya ini Soeharto menguraikan argumen bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. “Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja. Bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak.” Paragraf ini segera disambung paragraf lima baris: “Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu.” Lantas, Soeharto memaparkan lagi: “Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.” Ironis!
Sekali lagi, Petrus memang benar-benar kasus misterius. Siapapun dalangnya, dia sangat terampil mengunci lembaran hitam ini. Tidak ada seorang pun yang bisa menuntaskan kemajemukan persepsi ini. Padahal, zaman sekarang demokrasi sudah digembar-gemborkan keberadaannya. Kita tidak lagi menjadi ‘burung dalam sangkar’ seperti pada era otoriter Soeharto. Pada akhirnya, tragedi ini terkubur dalam-dalam dan bertransformasi menjadi kenangan yang kelam.





Daftar Pustaka
Achor, Mohammad. 2011. “Penembakan Misterius : Bukti Sikap Represif Rezim Soeharto”. Diakses dari http://sejarah.kompasiana.com/2011/12/02/penembakan-misterius-bukti-sikap-represif-rezim-soeharto/ pada tanggal 17 Oktober 2012, pukul 21.59 WIB.

Sejarah Perang.com. 2012. “Mengungkap Misteri PETRUS (Penembak Misterius)”. Diakses  dari http://sejarahperang.com/2011/12/25/mengungkap-misteri-petrus-penembak-misterius/ pada tanggal 17 Oktober 2012, pukul 22.09 WIB.

Lee, Michael. 2010. “Soeharto Dan PETRUS (Penembak Misterius) di Era 80-an”. Diakses dari  http://www.isunik.com/2012/04/soeharto-dan-petrus-penembak-misterius.html pada tanggal 17 Oktober 2012, pukul 22.18 WIB.

Purba, Supriad. 2012. “Mengungkap Kebenaran Penembakan Misterius. Diakses dari http://www.hariansumutpos.com/2012/08/39097/mengungkap-kebenaran-penembakan-misterius pada tanggal 17 Oktober 2012, pukul 22.21 WIB.


 



Senin, 01 Oktober 2012

Unjuk Gigi Emas Jadi Berkelas



Memiliki gigi yang putih, bersih, mengkilap, dan memukau menjadi idaman setiap orang di dunia. Kita bisa tersenyum lebar tanpa harus malu-malu menunjukkan gigi. Secara otomatis, kepercayaan diri pun meningkat. Namun, bagaimana halnya dengan orang-orang yang justru gemar mempreteli giginya sendiri? Mengotak-atik salah satunya dengan materi yang memiliki prestise tinggi seperti emas? Sebesar apakah pengaruh gigi emas terhadap kepercayaan diri mereka? Mungkin, tidak ada pengaruhnya sama sekali atau justru mampu menaikkan harga diri. Dalam tulisan ini kita akan mengupas lebih dalam lagi motif-motif yang melatarbelakangi orang-orang tersebut memilih emas sebagai aksesoris gigi.

Berbeda orang, berbeda pula pendapatnya. Ini adalah pilihan individu. Rata-rata orang di dunia memakai emas untuk perhiasan atau aksesoris di baju, dan bukan untuk membuat gigi. Beberapa orang melakukannya karena hal spekulatif. Beberapa lagi melakukannya karena ayah atau kakek mereka memilikinya. Ada lagi yang berpendapat bahwa bagian terbaik tentang memiliki gigi emas yaitu bersinar ketika tersenyum. Pendapat tersebut tidak keliru. Semua itu sah-sah saja.

Bertolak dari realita yang terjadi di masyarakat berbagai belahan dunia, sebagian besar orang memakai gigi emas untuk status sosial. Memiliki gigi emas bergengsi bagi mereka. Beberapa sub kultur di Indonesia menjadikan gigi emas sebagai simbol status. Semakin banyak gigi emas, semakin tinggi pula pandangan masyarakat terhadap status sosial kita. Di beberapa belahan dunia tertentu, khususnya di Eropa bagian barat, negara Uni Soviet terdahulu, Asia Tengah dan Caucasus, gigi emas melambangkan kemakmuran. Pernyataan ini berkaitan dengan asumsi bahwa emas adalah logam mulia yang memiliki nilai keindahan yang tinggi. Nilai keindahannya yang tiada tara dan diikuti harga yang tinggi dibandingkan logam lainnya menjadikan emas acap kali digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri.

Di kalangan selebritis papan atas luar negeri, gigi emas pun melejit kepopulerannya. Dalam sebuah acara makan malam bersama teman-temannya di Restoran Giorgio Baldi, Rihanna memperlihatkan bagian giginya yang berlapis emas ketika mulutnya sedikit terbuka. Tampak gigi depan pelantun tembang Umbrella ini dilapisi emas sehingga tampak bercahaya di balik bibirnya yang berlipstik ungu. Rihanna sendiri mulai menambahkan aksen emas di mulutnya pada tahun 2011 ketika ia tampil di video musik You Da One

Lapisan emas pada gigi juga dikenakan sebagai cerminan kekayaan dan kemakmuran di dalam komunitas hip hop dan telah banyak digunakan sejak awal 1980-an ketika gigi “bling-bling” menjadi bagian fashion statement. Bintang rap dan hip hop biasa menghias giginya dengan emas dan berlian, yang dalam bahasa slang disebut grills. Misalnya, Flava Flav, salah satu rapper kulit hitam yang memakai grills, dan Paul Wall, rapper kulit putih yang kini memiliki bisnis grills sendiri. Grills yang dipakai oleh artis Paul Wall dikabarkan berharga USD 30.000. Biaya pembuatannya yang sangat mahal memposisikan grills sebagai alat ukur kekayaan artis pada masa itu.

            Senyum lebar dengan gigi berlapiskan emas mungkin tampak sedikit nyeleneh di mata banyak orang. Tetapi, di benak pemakainya, gigi emas mendapat tempat yang spesial. Bukan hanya mampu mengangkat rasa percaya diri, gigi emas menjadi andalan utama dalam ajang unjuk kekayaan. Semakin makmur seseorang, semakin banyak emas yang menghiasi giginya. Bagi mereka, menjadi bersinar di depan orang adalah dengan memakai gigi emas.



Daftar Pustaka
Gold Teeth (Cosmetic Use). Diunduh dari  http://en.wikipedia.org/wiki/Gold_teeth  pada tanggal 18 September 2012.
Mozartha, Martha. Gigi Emas Para Rapper .Diunduh dari http://m.klikdokter.com/detail/read/18/255/gigi-emas-para-rapper pada tanggal 18 September 2012.
Ria Utari, Dewi. Peoples Opinions About Gold Teeth. Diunduh dari http://dewagratis.com/kesehatan/dokter/indo/dental-health/dental-implant/gold-teeth/Peoples-Opinions-About-Gold-Teeth.html pada tanggal 18 September 2012.

Blog Archive

Kontributor