Sabtu, 15 September 2012

Fenomena Sosial



Genggam Komunikasi dan Media, Stand Up Comedy Berkarya  

Humor dalam manifestasinya yang beraneka ragam menjadi adimagnet tersendiri di kalangan masyarakat. Akhir-akhir ini humor yang disuguhkan dalam bentuk stand up comedy banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Stand up comedy adalah genre komedi yang menuntut keahlian bermonolog seorang pelawak di atas panggung. Pelakunya dinamakan stand up comedian. Namun, di kalangan penggila humor namanya disingkat menjadi comic. Sasaran para comic biasanya adalah tempat-tempat berkumpulnya massa seperti restaurant dan cafe. Warna humoris nan menggelitik yang diciptakan para comic menambah nilai plus bagi tempat-tempat tersebut. Bayangkan, pengunjung yang sedang menikmati kudapan di restaurant disuguhi candaan yang segar, menarik, dan terkadang luput dari perhatian kita. Tidak jarang materi yang dibawakan berbentuk satire, yaitu lawakan yang mengandung sindiran dan kritik sosial. Dampaknya, kita menjadi lebih peka terhadap situasi dan kondisi yang sedang hangat terjadi di Indonesia.
Komunikasi dan media memiliki andil besar dalam mendukung eksistensi stand up comedy di Indonesia. Sama halnya dengan target lulusan yang wajib dilampaui mahasiswa ilmu komunikasi. Mahasiswa ilmu komunikasi tidak hanya dituntut tampil prima saat berbicara, media sebagai wadah pembuktian kebolehan juga wajib dikuasai. Tanpa komunikasi, stand up comedy adalah seni mematungkan masyarakat, bukan lagi seni menggerakkan masyarakat. Stand up comedy akan menjadi pertunjukan nonedukatif dan bahan candaan semata yang tidak membawa perubahan apapun bagi alur kehidupan bangsa Indonesia. Tanpa uluran tangan media, para comic tidak terfasilitasi dengan baik. Stand up comedy tidak akan sampai ke telinga masyarakat dan para petinggi yang duduk di kursi pemerintahan.
Seorang comic adalah pusat perhatian yang akan membangun komunikasi sehat tanpa menyepelekan pesan yang ingin disampaikan kepada pendengar. Sederhananya, comic harus menjadi center of point yang komunikatif. Menurut Didik Rahmanadji, dalam tulisannya yang mengacu pada Ensiklopedia Indonesia (1982)  berbunyi, ”Humor adalah kualitas untuk menghimbau rasa geli atau lucu, karena keganjilannya atau ketidakpantasannya yang menggelikan; paduan antara rasa kelucuan yang halus di dalam diri manusia dan kesadaran hidup yang iba dengan sikap simpatik.” Bertolak dari pengertian tersebut, penyampaian humor tidak semata-mata berhiaskan kejenakaan. Selain dari segi materi, kualitas comedian  dalam menyampaikan humor sangat menentukan feed back (respon) yang ditunjukkan oleh audiens.
Stand up comedy memiliki teori-teori komunikasi yang dikategorikanya sebagai aturan main. Ramon Papana, senior stand up comedy Indonesia dan pendiri Comedy Cafe di Kemang sejak tahun 1997, di sebuah workshop pernah mengutarakan lima aturan main bagi para comic. Seorang comic harus try not to tell the jokes, yang berarti jangan berusaha menganulir pembicaraan dengan lelucon basi dan  tidak berbobot. Jika melihat fakta di lapangan, pelawak sering mengungkit lelucon yang sudah jamak dibicarakan masyarakat. Bahkan, menarik perhatian dengan melempar tebakan-tebakan ke penonton sudah lumrah terjadi. Lawakan yang basi tentu membuat penonton bosan dan memilih untuk pergi. Try not to be funny berarti seorang comic tidak perlu berusaha ekstra keras agar terlihat lucu. Peran seorang comic adalah menarasikan ulang gejala-gejala sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara lebih segar dan jenaka. Seorang comic juga harus memiliki karakter yang kuat. Maka dari itu, become your natural self adalah motivasi yang tepat untuk membentuk pribadi yang memiliki diferensiasi unik. Selain itu, posisi keseriusan dipandang sebagai hal krusial dalam stand up comedy. Seorang comic dituntut untuk bercerita dengan jenaka, namun seakan-akan tidak bermaksud melawak. Tawa akan datang sendirinya jika alur narasi dibuat selucu dan sekreatif mungkin. Hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu, bersikap santai dan rileks. Grogi yang ditunjukkan comic akan menyulut ketidakpercayaan penonton terhadap materi yang tengah disuguhkan.
Kebutuhan stand up comedy terhadap media sebagai ‘penyambung lidah’ tidak bisa dinomorduakan. Selain bertugas mendokumentasikan, media menjadi alat promosi agenda acara stand up comedy sehingga masyarakat tetap bisa mengikutinya dengan baik. Misalnya, salah satu komunitas stand up comedy SELOsoSELO yang sedang ramai dibicarakan warga Jogjakarta. Komunitas ini rutin tampil di Geronimo Cafe, Jalan Sagan Jogjakarta setiap hari Selasa pada pukul 20.00 WIB sampai selesai. Descha Vyana selaku admin dari @standupindojgj dan bagian promosi dari komunitas ini mengaku bahwa twitter dan radio menjadi urgent media dalam penyebarluasan agenda acara kepada masyarakat. Jelas terbukti dari pengakuan Descha bahwa peran media sangat krusial dalam memajukan komunitas stand up comedy di Indonesia.
Stand up comedy sebenarnya adalah wadah komunikasi dan media untuk melangsungkan hubungan sinergis. Komunikasi baik itu berupa teori dan praktek, selalu diaplikasikan oleh seorang comic saat tampil di atas panggung. Seorang comic yang dangkal pengetahuan komunikasinya akan dicap ‘tong kosong nyaring bunyinya’. Dampaknya, pesan-pesan yang seharusnya sampai ke benak audiens menguap tidak tentu arah. Media juga tidak kalah pentingnya memperkuat eksistensi stand up comedy. Setinggi apapun ilmu komunikasi yang dikuasai oleh seorang comic, tanpa bantuan media kehebatan tersebut tidak akan mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Stand-up comedy perlu media untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Sederhananya, media adalah penghapus jarak antara masyarakat dan stand up comedy. Selain itu, media menjadi alat promosi agenda kegiatan kepada masyaraka untuk menuntun perkembangan stand up comedy ke arah yang lebih baik. #BRIDGING COURSE 04
Ni Ketut Dimar Warsihantari




Daftar Pustaka
Suryo,Prihastoro. Komunitas SELOsoSELO,”Gojek To The Max”. Diunduh dari http://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/02/15/komunitas-selososelo-gojek-to-the-max/, pada tanggal 10 September 2012.
Kurniawan,Arief.Stand Up Comedy,Menghibur Dengan Cerdas (Part 1).Diunduh dari http://the-marketeers.com/archives/standup-comedy-menghibur-dengan-cerdas-part-1.html, pada tanggal 10 September 2012.
Rahmanadji, Didiek.2007. Sejarah, Teori, Jenis, Dan Fungsi Humor. Diunduh dari http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/35207213221.pdf,  pada tanggal 11 September 2012.

Tidak ada komentar:

Loading...

Blog Archive

Kontributor

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini